Rumah Tangga sebagai Benteng Syariat:
Pesan Dakwah Akbar untuk Keluarga Banda Aceh
Ratusan keluarga muslim berkumpul di Bustanussalatin. Pesan malamnya: jadikan rumah bukan sekadar tempat tinggal โ jadikan ia kendaraan menuju jannah.
Di bawah langit Banda Aceh yang sesekali diiringi rintik hujan, ratusan keluarga Muslim berkumpul di Taman Bustanussalatin malam itu. Bukan untuk acara hiburan โ melainkan untuk mendengar satu pertanyaan yang paling mendasar: sudahkah rumah tangga kita menjadi kendaraan menuju akhirat?
Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh menggelar Dakwah Akbar pada Selasa malam, 9 Juni 2026, dengan menghadirkan Ummu Khadijah Peggy Melati Sukma sebagai pemateri utama. Acara yang digagas oleh Wali Kota Banda Aceh saat ini Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal, S.E. dan Dinas Syariat Islam kota dirancang sebagai agenda rutin untuk memperkuat kesadaran keluarga-keluarga Muslim di Banda Aceh dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang berpijak pada syariat.
Dalam tausiyahnya, Ummu Khadijah membuka dengan sebuah pengingat yang berat namun jujur: zaman ini bukan zaman yang ringan. Nabi SAW, katanya, telah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa di penghujung zaman, menegakkan syariat akan terasa seperti menggenggam bara api โ panas, pedih, dan penuh tantangan. Namun justru di sinilah peran keluarga menjadi semakin vital.
"Menegakkan syariat bagaikan menggenggam bara api. Panas, pedih, perih, tajam โ sungguh tidak mudah. Maka keluargalah benteng pertamanya."
Fungsi Rumah Tangga: Lebih dari Sekadar Tempat Pulang
Merujuk pada surah Al-Hujurat, Ummu Khadijah menegaskan bahwa Allah menjadikan satu laki-laki dan satu perempuan bersatu dalam ikatan pernikahan dengan satu tujuan utama: melahirkan generasi yang bertakwa. Bukan sekadar generasi yang cerdas, mapan, atau populer โ melainkan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu yang paling bertakwa.
"Fungsi seorang ayah dan ibu adalah menghasilkan generasi yang takwa," tegasnya. Dan untuk itu, setiap anggota keluarga memiliki perannya masing-masing yang tidak bisa ditukar-tukar begitu saja.
Tiga Pilar Laki-Laki sebagai Qawam
Ummu Khadijah mengingatkan bahwa Allah menetapkan laki-laki sebagai qawam โ pemimpin keluarga โ bukan karena superioritas, melainkan karena tanggung jawab. Ada tiga pilar yang ia tekankan:
Wanita sebagai Sakinah: Penjaga, Bukan Penjara
Jika laki-laki adalah qawam, maka wanita adalah sakinah โ sumber ketenangan dan ketenteraman rumah tangga. Ummu Khadijah menyitir hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa seorang perempuan adalah pemimpin di dalam rumah yang ia tinggali bersama suaminya, dan ia memimpin anak-anaknya.
Ketika suami berjuang keras di luar mencari nafkah halal, istri menjadi guardian โ penjaga rumah, penjaga harta, dan penjaga anak-anak. Ini bukan berarti wanita terkurung. Ummu Khadijah sendiri mengakui bahwa ia berkeliling dunia untuk berdakwah โ namun selalu dengan izin dan ridho suami, dan dengan memastikan kewajiban kepada keluarga tidak pernah terbengkalai.
Syariat Bukan Pengekangan โ Ia Adalah Pagar Rumah
Salah satu pesan yang paling mengena malam itu adalah soal bagaimana muslimah memandang syariat. Ummu Khadijah menggunakan analogi sederhana namun tepat sasaran: bayangkan sebuah rumah yang berpagar. Pagar itu bukan untuk mengurung penghuninya โ pagar itu melindungi mereka dari ancaman di luar.
"Syariat mengangkat harkat, mengangkat harga diri perempuan," tegasnya. Ia mengajak para muslimah untuk terus menggali ilmu agar bisa mencintai, membanggakan, bahkan merindukan syariat โ bukan sekadar mematuhinya karena terpaksa.
Dakwah Akbar malam itu ditutup dengan pesan yang sederhana namun kuat: bangunlah keluarga sebagai benteng syariat, dan bentuklah pribadi-pribadi bersyariah di dalamnya. Karena dari rumah tangga yang kokoh itulah, generasi bertakwa akan lahir โ dan dari generasi itulah, Aceh yang berjaya akan terus berdiri. Insya Allah.
Liputan Dakwah Akbar Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh ยท Taman Bustanussalatin, 9 Juni 2026

